Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Rabu, 18 Januari 2012

Mukadimah Fi Zhilalil Quran (4)

Al-Haq (Kebenaran) dalam Manhaj Allah merupakan dasar bangunan semesta ini. Ia bukan ada sekonyong-konyong dan tidak pula secara kebetulan tanpa maksud. Sesungguhnya Allah itu adalah al-Haq. Semua yang ada di jagad raya ini keberadaannya bersumber dari keberadaan-Nya.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al-Hajj : 62)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan haq dan tidak tercampur sedikitpun dengan bathil (kebatilan).

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى

Tidakkah mereka memikirkan dalam diri mereka bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di atntara keduanya kecuali dengan haq dan batas yang sudah ditentukan… (QS Ar-Rum : 8)

Sebab itu, al-Haq adalah pilar alam semesta. Bila menyimpang darinya, maka alam ini akan rusak dan hancur.

َلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

Sekiranya al-haq itu mengikuti hawa nafsu (kemauan) mereka, niscaya rusaklah langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya… (QS Al-Mukminun : 71).

Sebab itu, al-Haq itu harus menang dan al-Bathil itu harus lenyap. Kendati fenomena yang nampak bukan seperti itu, namun endingnya akan terlihat dengan jelas.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang al-Haq kepada al-Bathil, lalu yang al-Haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang al-Bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS Al-Anbiya’ : 18)

Sesungguhnya kemabali kepada Allah – sebagaimana nampak saat hidup di bawah naungan Al-Qur’an – hanya satu konsepsi dan satu jalan…. Tidak ada yang lain…. Itulah kembali secara total dalam hidup ini berdasarkan manhaj Allah yang dititahkan-Nya untuk manusia sesuai apa yang tercantum dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an). Menjadikan Al-Kitab ini sebagai dasar dan sumber hukum mereka dalam kehidupan ini. Berhukum kepadanya saja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Jika tidak, keruskan yang akan terjadi di muka bumi – seperti yang kita saksikan saat ini-, celaka bagi manusia, terbenam dalam lembah kehinaan dan terjebak mengikuti Jahiliyah yang menyembah hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Maka jika mereka tidak menjawab (seruanmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS Al-Qashash : 50)

Sesungguhnya berhukum pada manhaj Allah yang ada dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) bukanlah perkara sunnah atau tathowwu’ (suka rela) dan tidak pula sebagai pilihan. Melainkan perkara beriman atau tidak beriman.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab : 36)

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (18) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (19) هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (20)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang orang yang tidak mengetahui () Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. ()Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS Al-Jatsiyah : 18 – 20 )

Nah, masalahnya amat serius… Ia pada dasarnya adalah masalah akidah… Kemudian baru masalah kebahagiaan dan kesengsaraan manusia…

Sesungguhnya manusia ini ciptaan Allah. Tidak mungkin terbuka kunci-kuci fitrahnya kecuali dengan anak-anak kunci yang yang diciptakan Allah pula. Tidak mungkin dapat mengobati penyakit-penyakitnya kecuali melalui obat yang diciptakan Tangan-Nya. Allah menciptakan kunci-kunci itu hanya dalam manhaj-Nya yang akan membuka setiap gembok dan obat bagi setiap penyakit.

Sesungguhnya di sana ada segolongan manusia yang suka menyesatkan dan menipu. Mereka adalah musuh kemanusiaan. Mereka meletakkan manhaj Allah di atas daun timbangan dan hasil-hasil penemuan manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang satu lagi. Kemudian mereka berkata : Pilihan… Pilihan… Pilih manhaj Allah dalam hidup ini dan tinggalkan semua yang diciptakan tangan manusia dalam dunia materi. Atau ambil semua buah pengetahuan manusia dalam dunia materi dan tinggalkan manhaj Allah..

Ini adalah tipuan yang amat kotor dan menjijikkan… Letak perkaranya sama sekali bukanlah seperti itu. Manhaj Allah itu tidak pernah memusuhi hasil karya manusia. Akan tetapi, Manhaj Allah itu adalah sumber karya dan penemuan itu dan mengarahkannya ke arah benar. Yang demikian itu agar manusia bangkit sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini.

Itulah maqam (kedudukan) yang amat mulia yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Maqam tersebut merupakan power (kekuatan) yang tersimpan sebagai kompensasi atas kewajiban yang dibebankan pada mereka. Lalu Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi ini melalui sistem yang ditentukan-Nya sehingga manusia mampu merealisasikannya. Di samping itu, Allah juga mensingkronkan antara penciptaan manusia dengan penciptaan alam semesta agar mereka mendaptkan hak hidup, bekerja dan berkarya, dengan landasan bahwa karya tersebut mesti dalam rangka ibdah kepada Allah, sebagai sarana syukur mereka terhadap nikmat yang melimpah dari-Nya dan terikat pula dengan akad kekhalifahan mereka di atas bumi. Di antara isi akad tersebut ialah, bahwa manusia bekerja dan berkarya harus dalam frame ridha Allah.

Adapun mereka yang menaruh manhaj Allah di atas daun timbangan dan karya manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang lain, mereka sebenarnya memiliki niat jahat karena mereka sendiri orang-orang jahat yang berupaya selalu mengusir mansusia yang sedang letih dan bingung setelah capek dari terlunta-lunta, kebingungan dan kesesatan. Padahal jiwa mereka sebenarnya merindukan untuk mendengar suara Penasehat Tunggal (Allah), kembali dari tersesat yang mebahayakan dan mendaptkan ketenagan pangkuan Allah.

Sementara di sana ada lagi sekelompok lain yang kekurangan mereka bukan pada niat, akan tetapi merka kurang memiliki pengetahuan yang syamil (konprehensive) dan pemahaman yang mendalam. Mereka terperangah melihat apa yang dicapai oleh manusia dari penemuan-penemuan kekuatan dan sistem-sistem alam semesta ciptaan Allah. Mereka kagum sekali menyaksikan keberhasilan-keberhasilan manusia dalam dunia materi. Kekaguman itu telah membuat dalam diri mereka pemisahan antara kekuatan alam dan kekatan nilai keimanan, efektifitasnya dan pengaruhnya dalam fakta alam dan realitas kehidupan. Lalu mereka menjadikan sistem-sistem alam ini menjadi satu bagian dan nilai-nilai keimanan menjadi bagian lain. Mereka menduga bahwa sistem alam ini berjalan di jalannya tanpa terpengaruh oleh nilai-nilai keimanan. Hasilnya akan sama bagi manusia beriman atau kafir. Apakah mereka mengikuti manhaj Allah atau melanggarnya. Apakah mereka berhukum pada syariat Allah atau dengan syari’at hawa nafsu mansia…

Pendapat seperti itu adalah dugaan belaka, karena memisahkan antara dua sistem Allah yang pada hakekatnya tidaklah terpiasah. Nilai-nilai keiman itu juga bagian dari sistem Allah seperti halnya sistem-ssitem yang ada dalam alam semesta. Hasilnya juga saling terikat. Dan tidak ada alasan memisahkan antara keduanya dalam perasaan dan konsepsi seorang Mukmin.

Inilah konsepsi yang benar yang dibangun Al-Qur’an dalam diri Anda saat Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Al-Qur’an membangunnya saat bicara tentang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang hidup di masa lampau, penyimpangan mereka dan pengaruh penyimpangan tersebut pada akhir perjalanan mereka.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (66)

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga surga yang penuh kenikmatan.() Dansekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan . Dan alangkah buruknya apa yang dkierjakan oleh kebanyakan mereka.(QS Al-Maidah : 65 – 66)

AL-Qur’an membangun konsepsi itu saat bicara tentang janji Nabi Nuh pada kumnya.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا () يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا () وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ()

maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun -,() niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,() dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalam-nya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10 – 12)

Al-Qur’an membangun konsepsi tersebut saat bicara tentang adanya ikatan antara realitas jiwa manusia dengan realitas di luar diri mereka yang Allah ciptakan bagi mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubah (kelemahan) yang ada dalam diri mereka sendiri.. (QS Ar-Ra’d : 11)

Sesungguhnya iman kepada Allah, ibadah kepada-Nya dengan istiqamah, menerapkan syari’at-Nya di atas bumi ini… semuanya merupakan realisasi sistem-sitem Allah. Sistem-sitem yang memiliki efektifitas positif yang mucul dari sumber yang sama dengan istem kauni yang kita lihat pengaruhnya melaluai perasaan/pengalaman dan laboratarium.

Sesungguhnya syari’at Allah merupakan bagian dari sistem Allah secara keseluruhan yang ada dalam alam semesta ini. Menerapkan syari’at tersebut pasti memberikan pengaruh positif dalam perjalan alam dan kehidupan manusia. Syaria’ tersebut merupakan buah dari iman yang tidak mungkin berdiri sendiri tampa dasar/pokoknya yang amat besar. Sebab itu, syari’at Allah diciptakan untuk diterapkan dalam amsyarakat Islam, sebagaiman ia juga diciptakan untuuk berperan dalam membangun masyarakat Islami. Syariat tersebut juga sempurna bersama konsepsi Islam terhadap alam semesta dan terhadap manusia. Apa yang dibangun oleh konsep tersebut ialah taqwa dalam hati, bersih dalam perasaan, fokkus kepada hal-hal besar, ketingian akhlak, konsistensi dalam prilaku. Dan begitulah seterusnya nampak jelas kesmpurnaan dan keselarasan antara sistem-sitem Allah, bersamaan apa yang kita namakan dengan hukum alam dengan apa yang kita namakan dengan nilai-nilai keimanan. Semuanya merupakan bagian dari sunnatullah (sistem Allah) yang konprehensive bagi alam semesta ini.

Manusia juga sebuah kekuatan dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam semesta. Amalnya, kehendaknya, imannya, kebaikannya, ibadahnya dan aktivitsnya semuanya merupakan kekuatan yang memiliki pengaruh positif di alam ini dan terkait dengan sunnatullah yang ada di alam ini secara keseluruhan. Semuanya bekerja secara serasi. Ia akan memeberikan buah secara sempurna bilamana kekuatan-kekuatan itu berhimpun dan harmonis. Demiakian juga akan melahirkan pengaruh negatif, mengalami kegoncangan dan merusak kehidupan serta menyebarkan kesakitan di antara manusia ketika berbagai kekuatan itu tercerai berai dan saling bertabrakan.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Anfal : 53)
Maka ikatan antara perbutan manusia dengan perasaannya dan atara peristiwa-peristiwa yang terjadi sangatlah kuat dalam sistem Allah yang syamil. Sebab itu, tidak ada inspirasi pemisahan ikatan ini. Tidak pula ada seruan untuk membuatnya tidak harmonis dan tidak ada juga batas antara manusia dan sunnatullah yang berlaku kecuali musuh manusia yang menjauhkannya dari petunjuk (hudan). Hal seperti itu pantas disingkirakan dari jalan menuju Rab (Tuhan Pencipta) yang Maha Mulia.

Inilah sebaigian lintasan pikiran dan perasaan yang lahir dari masa hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Semoga Allah memberinya manfaat (bagi pemca) dan memberinya petunjuk. Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendakinya.

Mukadimah Fi Zhilalil Quran (3)


Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Anda pasti akan hidup tenang dan tentram sambil melihat tangan Allah dalam segala kejadian dan dalam segala urusan. Anda hidup dalam pangkuan Allah dan dan penjagaan-Nya sambil menikmati positifitas sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya.

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…." (QS An-Naml : 62)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

"Dan Dialah yang Berkuasa di atas hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui" (QS Al-An’am : 18)

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"… Dan Allah pasti menang atas segala urusan-Nya dan kebanyakan manusia tidak mengetahunya." (QS Yusif : 21)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

"Dan ketahuilah bawa sesungguhnhya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya…" (QS Al-Anfal : 24)

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

"Sesungguhnya Rab (Tuhan Pencipta)mu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki" (QS Hud : 107)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan siap ayang bertaqwa kepada Allah, pasti Dia jadikan baginya jalan keluar () dan Dia beri rezki dari arah yang tidak ia duga, dan siapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah maka pasti Dia mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS At-Thalaq : 2 – 3)

مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا

"Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya" (QS Hud : 56)

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?.." (QS Az-Zumar : 36)

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

"Siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memuliakannya…." (QS AL-Hajj : 18)

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

"Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorangpun yang dapat memebrinya petunjuk…" (QS Arra’d : 33)

Sesungguhnya semesta ini tidaklah diatur oleh sistem-sitem bisu. Di sana ada sistem-sistem yang mengatur dan kehendak mutlak. Allahlah yang menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya. Hidup dibawah nauangan Al-Qur’an mengajarkan Anda bahwa Tangan Allah setiap saat bekerja dengan cara-Nya yang unik. Tidak pantas bagi kita untuk minta dipercepat (isti’jal) dan tidak pula mengusulkan pada Allag akan sesuatu.

Sebab itu, Manhaj Ilahi (Konsep Allah) – sebagaimana jesal di bawah naungan Al-Qur’an- diciptakan untuk diterapkan dalam setiap lingkungan dan setiap marhalah (periode) dari marahalah-marhalah penciptaan manusia. Juga dari setiap kondisi kejiwaan mannusia. Manhaj Allah itu diciptakan untuk manusia yang hidup di atas bumi ini dengan mempertimbangkan fitrah, potensi, kesiapan, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisinya yang selalu berubah.

Sesungguhnya Manhaj Allah itu tidak pernah berburuk sangka (engative thinking) terhadap manusia sehingga mengerdilkan peran mereka di atas bumi ini. Atau melecehkan nilai kemanusiaan dengan gambaran kehidupan yang buruk sebagai indivdu atau anggota jamaah (kelompk) manusia. Demikian juga, Manhaj Allah tidak membangun waham khayalan untuk mengangkat derajat mansia di atas derajat, kemampuan dan tugasnya yang telah diciptakan sejak pertama kali Allah menciptakan mereka. Dalam dua kondisi tersebut, Manhaj Allah juga tidak mengharuskan bahwa faktor-faktor pendukung fitrah manusia bisa bangkit hanya dengan sistem sederhana atau jatuh hanya disebabkan goresan pena.

Manusia adalah makhluk hidup dengan jati dirinya, fitrahnya, kecendrungannya dan kesiapannya mampu mengambil Manhaj Allah dengan tangannya agar dapat naik ke tingkat/ derajat kesempurnaan yang paling tinggi yang telah dietapkan untuk mereka berdasarkan penciptaan dan tugas yang dipikulkan atas mereka. Untuk itu, mereka harus menghormati jati diri, fitrah dan faktor-faktor pendukung lain yang menggiring mereka ke jalan kesempurnaan menuju Allah. Sebab itu, Manhaj Allah diciptakan untuk jangka panjang sesuai pengetahuan Zat Pencipta manusia itu sendiri dan yang menurunkan Al-Qur’an ini. Sebab itu pula tidak aka ada dalam Manhaj Allah itu “coba-coba” dan tidak ada pula yang bersifat tergesa-gesa dalam merealisasikan tujuan-tujuannya yang amat mulia.

Adapun Islam, maka ia amatlah mudah dan lentur bersama fitrah yang mendorongnya dari saru sisi dan menahannya dari sisi yang lain. Islam akan meluruskannya ketika ia mulai condong… Akan tetapi tidak dipatahkan dan dihancurkannya. Islam sangat sabar terhadap fitrah bagaikan sabarnya seorang arif yang melihat dengan mata hatinya dan yakin akan tujuan yang sudah digariskan. Hal-hal yang tidak selesai dalam jaulah (putaran perjalan) kali ini akan diselesaikan pada jaulah kedua, ketiga, atau kesepuluh, keseratus dan bahakan jaulah keseribu… Karena waktu itu masih terbuka… Tujuan amatlah jelas… Sedangkan jalan menuju tujuan yang besar itu sangatlah panjang… Itulah Islam yang tumbuh dan membesar secara perlahan, dengan cara yang mudah dan ketenagan… Kemudian wujudlah Islam itu seperti yang dikehndaki Allah.... Islam adalah Manhaj Allah di alam semesta ini

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا

"Dan kamu tidak akan menemukan sunnah (sistem) Allah itu berganti" (QS Al-Ahzab : 62)

Mukadimah Fi Zhilalil Quran (2)

Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Anda pasti melihat bahwa manusia itu jauh lebih mulia dari penilaian yang pernah dikenal manusia, baik dahulu maupun sekarang. Mereka adalah manusia yang mendapatkan tiupan ruh (nyawa) dari Allah.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka mereka (malaikat) tunduk kepadanya dengan bersujud (QS. Al-Hijr : 29)

Maka dengan tiupan itu pula, manusia berhak menjadi Khalifah-Nya di muka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan ingatklah ketika Rob (Tuhan Pencipta)mu berkata kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku menjadikan khalifah di muka bumi…..(QS. AL-Baqarah : 30).

Lalu Dia menundukkan bagi manusia apa saja yang ada di lngit dan di bumi

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia menundukkan bagimu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda-tnada bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiyah : 13)

Dengan begitu hebatnya kemualiaan dan ketinggian yang dianugerahkan kepada Manusia, Allah telah menjadikan sebuah ikatan yang bersumber dari tiupan ilahiyah yang amat mulia. Itulah iakatan akidah fillah. Sebab itu, akidah orang beriman (mukmin) adlah tanah air dan kebangsaannya serta keluarganya. Di atas akidah sajalah manusia berhimpun. Bukan seperti berhimpunnya hewan yang dilandasi kepentingan rumput dan tempat gembala.
Sesungguhnya orang Muslim itu memiliki hubungan keturunan yang jauh yang terbentang jauh ke belakang. Ia adalah salah seorang dari kafilah mulia itu yang membimbing langkahnya bersama kelompok yang mulia pula: Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Musa, Isa dan Muhammad ;’alaihimush-sholatu wassalam..

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Dan sesungguhnya ini adalah umatmu sebagai umat yang satu dan Aku adalah Rob (Tuhan Pencipta-Mu). Maka bertakwalah pada-Ku. (QS. Al-Mukminun : 52)

Lewat kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an, akan nyata di hadapan Anda bahwa kafilah yang mulia yang membentang sejak masa yang amat jauh sebelumnya menghadapi kondisi-kondisi yang mirip. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qqur’an, ada pengalaman-pengalaman yang mirip sepanjang masa kendati berbeda waktu, tempat dan kaum.

Kafilah mulia itu selalu menghadapi kesesatan, kebutaan, hawa nafsu, penindasan, kezaliman, intimidasi dan pengusiran. Namun demikian, kafilah mulia tetap berjalan di atas jalan yang permanen (tsabit), dengan hati yang tenang seraya tsiqah (yakin) meraih pertolaongan Allah, terikat setiap saat pada rojak (sangat berharap) akan terjadinya janji Allah yang Maha Benar.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ (13) وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ (14)


Dan orang-orang kafir itu berkata kepada para Rasul mereka : Kami pasti mengusir kalian dari bumi (negeri) kami, atau kalian kembali ke dalam agama kami. Maka Rab (Tuhan Pencipta) mereka memberikan wahyu kepada mereka : Kami pasti membinasakan orang-orang zalim itu () dan Kami menempatkan kamu di negeri itu setelah (kehancuran) mereka. Yang demikian itu (balasan) bagi orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (QS Ibrahim : 13 – 14)

Demikianlah Al-Qur’an menyebutkan satu sikap, satu pengalaman, satu ancaman dan satu keyakinan. Janji Allah hanya satu bagi kafilah yang mulia ini. Akhir (ending)-nya juga satu yang ditunggu-tunggu kaum Mukminin pada akhir perjalanan saat mereka menghadapi tekanan, intimidasi dan ancaman…

Jika Anda benar-benar hidup di bawah naungan Kitabullahh; Al-Qur’an, Anda akan belajar darinya bahwa di alam semesta ini tidak ada yang bernama “kebetulan” dan tidak juga yang bernama “terjadi begitu saja’.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami ciptakan bagi setiap sesuatu itu dengan kadar (batas).

QS Al-Qomar : 49.

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا …..

dan Dia menetapkan ukuran-ukuran segala sesuatu (nya) dengan serapi-rapinya.QS. Al-Furqan : 2)

Setiap perkara ada hikmahnya. Akan tetapi hikmah yang ghaib (tersembunyi) yang amat dalam yang bisa saja tidak terbuka untuk pandangan manusia yang amat pendek.

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا ….

Maka boleh saja kamu membenci sesuatu dan Allah jadikan di dalamnya kebaikan yang banyak (QS Al-Maidah : 19)

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan boleh saja kamu membenci sesuatu sedangkan dia lebih baik bagimu dan boleh saja kamu mencintai sesuatu sedangkan dia lebih buruk bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (apa-apa). (QS. Al-Baqarah : 216)

Sesungguhnya faktor-faktor penyebab yang dikenal manusia bisa saja menimbulkan efek/pengaruh dan bisa juga tidak berpengaruh. Permulaan/indikator yang biasa dilihat manusia sebagai sebbuah kepastian bisa saja melahirkan hasilnya yang pasti dan bisa juga tidak. Yang demikian itu disebabkan karena faktor-faktor penyebab dan indokator-indikator tersebut bukanlah sebagai pencipta pengaruh dan hasil. Akan tetapi merupakan sebauh Kehendak yang mutlak (pasti dari Allah) yang melahirkan pengaruh dan hasil sebagaimana Kehendak tersebut juga yang melahirkan faktor-faktor penyebab dan indikator-indikator itu.

لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

Anda tidak mengetahui bisa saja Allah ciptakan setelah itu suatu perkara (QS. At-Thalaq : 1)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu tidak bisa berkehendak kecuali jika Allah Tuhan Pencipta alam semesta menghendaki (nya) (QS At-Takwir : 29)

Orang Mukmin melaksanakan faktor-faktor penyebab karena diperintahkan melakukannya (sebagai ekspresi ibadah kepada-Nya). Dan Allah jualah yang mengaitkan pengaruh dan hasilnya dari apa yang dilakukannya. Ketenagan meraih rahmat Allah, keadila-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya sajalah tempat berlindung yang terpercaya serta cara terlepas dari kebimbangan dan keragu-raguan.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan itu menjanjikan kefakiran kepada kami dan menyuruhmu melakukan perbuatan yang keji. Dan Allah menjanjikan bagimu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) serta Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah : 268)

Mukadimah Fi Zhilalil Quran (1)


Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah sebuah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui indahnya kecuali bagi orang yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat derajat hidup, memberkahi dan mensucikannya. Jika Anda diberi Allah nikmat hidup di bawah naungan Al-Qur’an dalam suatu masa, Anda pasti merasakan nikmat yang luar biasa yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya dalam hidup ini. Rasakanlah nikmat yang mengangkat derajat hidup Anda, memberkahi dan mensucikannya.

Sesunggunya jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, sesungguhnya Anda hidup sambil mendengar Rabb-mu (Tuhan Penciptamu) sedang berbicara denganmu melalui Al-Qur’an ini. Anda adalah hamba yang kerdil dan kecil. Kemuliaan apakah gerangan yang diberikan kepada manusia ini? Kemulian yang amat tinggi dan mulia. Kemuliaan apakah gerangan yang diangkat oleh Tanzil (Al-Qur’an) bagi hidup ini? Kedudukan apapakah gerangan yang akan dianugrahkan oleh Maha Pencipta nan Mulia kepada manusia ini?

Sesungguhnya jika hidup ini dijalankan di bawah naungan Al-Qur’an, Anda dari ketinggian akan melihat Jahiliyah yang sedang melanda muka bumi ini, konsentrasi pemeluknya yang kecil dan kerdil. Anda juga akan heran melihat pengetahuan, konsep hidup dan focus (hidup) para penganut Jahiliyah itu, seperti halnya orang dewasa melihat anak-anak kecil sedang bermain-main. Dan Anda akan lebih heran lagi sambil berkata: Apa gerangan yang sedang menimpa manusia-manusia itu? Mengapa mereka terpuruk ke jurang yang amat kotor dan tidak dapat mengengar seruan yang Maha Tinggi dan Mulia?

Ketika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, sesungguhnya Anda hidup dengan konsep yang syamil (comprehensive), berkualitas tinggi dan bersih bagi keberadaan alam semesta dan tujuannya serta tujuan keberadaan manusia. Coba anda bandingkan konsep yang syamil untuk kehidupan, alam semesta dan manusia itu dengan berbagai konsep Jahiliyah yang menjadi sistem hidup manusia di Timur dan Barat, di Utara dan Selatan. Kemudian coba Anda bertanya: Mengapa mereka bisa hidup di lembah kepedihan, di dasar yang paling rendah, dalam kegelapan yang gelap gulita itu? Padahal di samping Jahiliyah itu terdapat tempat hidup yang tinggi (mulia) dan cahaya yang terang benerang.

Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an Anda akan merasakan singkronisai (harmonisasi) yang sangat indah antara gerakan manusia seperti yang dikehendaki Allah dan gerakan alam semesta ini yang diciptakan Allah dengan sangat indahnya. Kemudian Anda akan menyaksikan keterpurukan yang sedang diderita manusia akibat penyimpangannya dari sisitem alam (yang Allah ciptakan). Demikian juga paradoks yang terjadi antara pendidikan yang rusak dan jahat yang dipaksakan dan fitrah manusia yang diciptakan Allah pada mereka. Anda akan melihat sendiri. Setan terkutuk manakah gerangan yang menggiring langkah manusia menuju neraka Jahim? Dan Anda pasti berkata dengan yakin : Alangkah besarnya penyesalan hamba-hamba itu?

Sesungguhnya jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an maka Anda akan melihat semseta ini jauh lebih besar dari fenomena yang disaksikan. Lebih besar dari dari hakikatnya, lebih besar dari sisi-sisinya. Kemunculan manusia terbentang pada jalan-jalan yang amat panjang. Kematian bukanlah akhir perjalanan ini. Namun satu fase dari perjalanan itu. Apa yang diperoleh manusia ketika berada di dunia ini bukanlah merupakan semua jatahnya. Namun sebagian saja dari jatah keseluruhannya. Balasan yang lolos sehingga tidak menimpanya di dunia ini, bukan berarti dia lolos pula di sana (akhirat), di mana di sana tidak ada lagi kezaliman, kekurangan dan ditelantarkan.

Sesungguhnya periode yang Anda habiskan di atas bumi ini sesungguhnya merupakan perjalanan alam semesta yang bersahabat, alam berteman dan menhasihi. Alam yang memiliki ruh (nyawa) yang bisa menerima dan menjawab dan sedang mengarah kepada sang Pencipta yang Esa di mana ruh orang Mukmin juga mengarah dengan khusyuk. “Dan kepada Allah sujud siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dalam keadaan patuh maupun terpaksa, dan demikian pul abayang-bayang mereka di waktu pagi dan sore." (QS. Arro’d : 15) “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isro’ : 44)

Ketenangan, keluasan, kedekatan dan kepercayaan apa gerangan yang yang dilahirkan konsepsi yang syamil, yang luas dan yang benar ini ke dalam lubuk hatimu saat melihat ketundukan jagat raya ini kepada Allah, Tuhan Pencipta alam semesta?

-sumber eramuslim.com-

Selasa, 17 Januari 2012

Prinsip Penyeruan

Saat ini banyak sekali orang yang mengaku muslim, tapi tidak pernah menjalankan kewajiban pokoknya. Kewajiban yang sampai dia mati pun tidak akan pernah berhenti. Kewajiban dakwah yang mana ketika seorang muslim mengamalkannya maka ia mulia. Namun jika muslim tersebut meninggalkannya maka ia terhina.

Sebagian muslim berpikir kewajiban tersebut akan hilang dari bahu mereka jika ia telah menulis buku atau artikel atau  menyampaikan pidato di seminar-seminar. Sedangkan yang lain beranggapan bahwa afiliasi dengan harakah islamiyah (pergerakan islam), aktif menghadiri pertemuan, serta beredar di orbit harakah islamiyah adalah tujuan akhir dan puncak dari cita-cita.

Sesungggunya perjuangan islam (dakwah islam) adalah usaha untuk menghancurkan pilar-pilar masyarakat jahiliyah dan mendirikan masyarakat islam/negara islam. Perjuangan islam berarti memberantar kehidupan jahiliyah sampai ke akar-akarnya, baik dalam segi pemikiran, sistem maupun moralitasnya. Ia juga berarti sikap konfrontasi terhadap para misionaris kehidupan jahiliyah beserta pendukunya. Terakhir, perjuangan islam berarti menegakkan hukum Alloh di muka bumi dan menghancurkan hukum-hukum selain-Nya.

Al Quran telah menganjurkan kepada kita untuk melakukan kewajiban tersebut.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (ali imron 104)

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fushilat 33)

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)". (asy syura 15)

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (al hajj 67)

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (al maidah 67)

Sesungguhnya menyeru manusia kepada Islam, membuat merekan menerima Islam dengan sukarela dan menyiapkan mereka untuk hidup dalam koridor prinsip-prinsip dan hukum-hukumya merupakan instrumen dari terciptanya masyarakat islam. Jika realisasi masyarakat islam merupakan kewajiban, maka otomatis semua instrumen untuk mewujudkannya juga menjadi wajib.

Apabila mengacu pada syariat Alloh SWT adalah sebuah kewajiban islam dan realisasi kewajiban ini tergantung pada keberadaan sebuah negara atau pemerintahan, maka perjuangan untuk mendirikan sebuah pemerintahan islam - salah satu instrumen dasarnya dengan dakwah islam - menjadi kewajiban individu (fardhu 'ain) bagi setiap muslim sampai pemerintahan tersebut terealisir. Mereka yang melarikan diri sebelum berjuang, secara syariat menjadi pendosa. Dosa mereka tidak terhapus sampai mereka bangkit melaksanakan dakwah islam dan berperan langsung secara kemampuan masing-masing dengan mempersiapkan semua faktor dan instrumen yang diperlukan untuk mendirikan pemerintahan islam.

Keimanan, bukanlah keimanan jika tidak disertakan dengan amal. Keimanan adalah kepuasan intelektual, kesyahduan hati dan semangat jihad fi sabilillah. Dalam sebuah hadist rasullullah bersabda,
Iman bukanlah angan-angan. Tetapi iman adalah apa yang terpatri kuat dalam relung hati dan direalisasikan oleh perbuatan. HR Dailami
Fase-fase dari kerja dakwah, menyucikan jiwa manusia (tazkiyatun nufus) dari kesalahan dan penyimpangan, saling menasehati dengan kebenaran dan kesabaran, berdakwah dan berjihad fi sabilillah.

"Ya Alloh! Jika Engkau sudah tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli pada yang lain"

Sabtu, 14 Januari 2012

Sang Pedang Alloh, Khalid bin Walid


"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin." demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.
"Alangkah sempurnanya hamba Allah ini: Khalid ibn al-Walid, salah satu dari pedang-pedang Allah, dilepaskan untuk melawan kaum yang tidak beriman," Nabi Muhammad saw
"Perempuan tidak akan lagi mampu melahirkan orang seperti Khalid bin Walid", Abu Bakar ra.
"Dia adalah ahli perang; seorang teman kematian. Dia memiliki kecepatan lari dari singa dan kesabaran dari kucing!" Amr bin Ash ra
"Aku tidak memberhentikan Khalid karena kemarahanku atau ada ketidakjujuran pada dirinya, tetapi karena orang-orang memujanya dan tersesat. Aku khawatir orang-orang akan bergantung kepadanya. Aku ingin mereka mengetahui bahwa Allah-lah yang melakukan segala sesuatu; dan jangan sampai kerusakan muncul di bumi ini." Umar bin Khattab ra 

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya.

Suatu hari
pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik. Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka'bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka'bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina. Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka'bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, "O, Tuhan jangan marah kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu".

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam.
Harapan ini timbul karena Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya. Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-'an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid
akan segera masuk Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan Islam.

Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi
peperangan, Banu Muhzum lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari kewajiban-kewajibannya. Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.

Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang
Satria. Panglima perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat. Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat. Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat, seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras, telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa.

Kemahiran dan keberaniannya mengagumkan setiap orang.
Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran. Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa senialnya. Menentang Islam Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat.

Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi pemimpin suku Quraisy. Pada waktu
itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat berakar.

Khalid sebagai pemuda Quraisy yang berani
dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajar dan seirama dengan kehendak alam. Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.

Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit
getirnya kekalahan itu. Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud. Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam. Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih
besar jumlahnya dari pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-orang Islam. Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk mempertahankan tanah yang mereka injak. Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali di Uhud.

Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang
Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan. Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan. Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang. Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur orang Islam dipusat pertahanannya.

Melihat Khalid telah
masuk melalui tanah genting, orang-orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat. Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran. Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disulapnya menjadi satu kemenangan. Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam. Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena
Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa itu. Demikianlah kekuasaan Allah.

Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya sesuai dengan
kemauan-Nya.

----------------------------------------------------------------------------------------

Iklan tentang Khalid bin Walid
disini infonya
link video iklannya





Selasa, 06 September 2011

Memaknai Ibadah


Ibadah merupakan tugas hidup manusia (51:56). Namun ternyata tidak hanya manusia saja yang beribadah kepada Alloh, hewan-hewanpun beribadah juga kepada Alloh (24:41). Ibadah merupakan interaksi vertikal antara Ma’bud (Alloh) dan abid (manusia).

56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(adz Dzariyat 56)

41. Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. masing-masing Telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya[1043], dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (an Nur :41)

[1043] masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah dengan ilham dari Allah.

Sehingga apa yang membedakan ibadah manusia dengan ibadah makhluk yang lainnya ? Ternyata eh ternyata perbedaannya adalah terletak pada fungsinya. Manusia mempunyai fungsi dan peran tersendiri dibandingkan makhluk yang lain.

Fungsi dari manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi /menjalankan kekhalifahan Alloh dimuka bumi. (2:30). Kekhalifahan adalah sistem kehidupan yang berlandaskan pada Quran dan Sunnah.

30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (al Baqarah 30)

Dan peran dari manusia adalah memegang/menjalankan amanah Alloh (33:72). Amanah yang dimaksud adalah din Islam (beda makna antar din dan agama). Din tersebut disyariatkan kepada para Rasul untuk ditegakkan , dan jangan berpecah belah (42:13). Proses penegakkan din itu bukan hanya disyariatkan kepada para rasul saja, namun ini telah menjadi misi risalah yang harus dilanjutkan oleh para umat rasulnya. (42:28)

72. Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (al Ahzab 72)

[1233] yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan (din)

13. Dia Telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang Telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang Telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (asy Syuura 13)

[1340] yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.

28. Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi. (al Fath 28)

Definisi dari fungsi itu sendiri adalah jabatan, kedudukan. Sedangkan peran adalah hal-hal yang dilakukan untuk melaksanakan jabatannya / wewenang-wewenang (batasan-batasan) dalam menjalankan fungsinya. Jadi fungsi tersebut di batasi oleh perannya.

Untuk makna ibadah itu sendiri adalah ketaatan, kepatuhan, ketundukan.

31. Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(at Taubah 31)

Salah seorang sahabat nabi, yakni Adi bin Hatim yang sebelumnya adalah nasrani sedikit melakukan “protes”/komentar mengenai ayat diatas. “ Ya Rasul , saya dulu nasrani, tapi saya tidak menyembah rahib-rahib kami ?”. Rasul jawab, “Apakah dulu rahib tersebut menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal?” ‘Betul’ jawab Adi. “dan kalian taat kepada rahib tersebut?” Maka itulah bentuk peribadahanmu kepadanya.

Sehingga, ibadah adalah ketaatan. Ibadah tidak lepas dari aturan-aturan. Ibadah adalah ketaatan kepada aturan. Yang diibadahi adalah pembuat aturannya (pemilik aturannya).

Cakupan ibadah harus memenuhi;

  1. Iman
  2. Ikhlas
  3. Menguswah pada Rasulullah Muhammad SAW
  4. Iltizam bil jama’ah
  5. Idzharuddin

Iman : berarti ia mengimani, mencintai, mentaati, meninggikan Allah serta mengkufuri, membenci, memusuhi, merendahkan thaghut

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl [16] : 36)

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut , padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’ [4] : 60)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah [2] : 256)

“ Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An Nisaa’ [4] : 76)

Ayat-ayat lain ; 4:51 5:60 39:17

Ikhlas : Ikhlas berarti memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Ta’ala dalam berdinul Islam

“Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quraan) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya.” (Az Zumar [39] : 2)

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) din.” (Az Zumar [39] : 11)

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (Al Mu’min [40] : 14)

Ayat-ayat lain : 39:14 40:65 98:5

Menguswah : berarti amalannya sesuai dengan teladan yang Rasulullah contohkan. Apa yang Rasulullah contohkan maka kita ikuti. Yang harus kita uswah para rasul terutama yang termasuk dalam ulul azmi ( Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, serta Muhammad SAW)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab [33] : 21)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."(Al Mumtahanah [60] : 4)

Fudhail bin Iyadh pernah berkata bahwa amal kebaikan itu harus ikhlas dan benar, ikhlash karena Allah Ta’ala dan benar karena sesuai dengan petunjuk nabi.

Iltizam bil jamaa’ah : artinya dalam melakukan amal ketaatan hendaknya kita mengikatkan diri pada jamaah Islam (dinul Islam). Dan janganlah kita sendiri-sendiri dan juga janganlah berpecah belah.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah bersama-sama,dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara. dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran [3] :103)

“Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,” (Al Fajr [89] : 29)

Idzharuddin : dalam melakukan amalan-amalan kebaikan harus dilandasi bahwa amalan ini dalam rangka mengidzharkan (memenangkan) din Islam.

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy Syuura [42]: 13)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”(Al Fath [480 : 28) ayat sejenis 9:33